Rabu, 31 Oktober 2012

Harus Terpisah


Yak proyek 30 hari personal sountdrack kita lanjutkan, sodara-sodara. Sebelum 2013, ini kudu rampung, hihihi.. #sikap

Beberapa hari ini, di rumah lagi heboh lagunya Cakra Khan, Harus Terpisah. Awalnya dari soundtrack acara atau ftv atau apa gitu deh, saya juga lupa. Ibu terus minta dicariin, setelah ketemu, ternyata liriknya sadis dan kurang ajar. Caranya bikin suatu bagian lirik bagus sih, jadi kata akhir dalam satu kalimat jadi kata awal di kalimat selanjutnya. Yang menurut saya sadis itu lirik yang berkebalikan:
Ku berlari kau terdiam. Ku menangis kau tersenyum. Ku berduka kau bahagia. Ku pergi kau kembali.
Lalu saya twit lah tentang kekuatan ‘racun’ lagu itu dan tetiba ada yang nge-bbm saya, perempuan. 
Dia: Racuuuun bener ya Cakra
Saya: Eym. Itu tambah jadi racun kalo ternyata it really happens in your real life
D: Orang gak kejadian aja nyeseknya berasa
S: ROFL
D: “Kucoba meraih mimpi, kau coba hentikan mimpi” Yang itu kena banget. Gimana sih rasanya kalo semisal kita punya passion dan energi buat loncat dan kerja sana-sini tapi terhambat cuma buat alesan ketemu, pacaran, harus nurut, gak boleh, khawatir berlebih, insecure, dll. Aku banget itu sama mantanku.
Si Dia kini telah memiliki tambatan hati yang baru, yang lebih suportif. Ketika saya bercerita ke teman saya yang lain, tanggapannya, “Kamu gak tau, pas dulu dia nyalon jadi ketua organisasi jurusan di kampus, pacarnya sempet ngelarang lho.. Ya emang beda fakultas sih, cuma kayaknya cowoknya malu kalo ceweknya lebih dari dia. Secara kan cowoknya cuma jadi anggota di organisasi jurusannya.” Komentar saya, “halah, masih kuliah aja pacarannya rempong..”

Kemarin saya sempet tuh bikin tulisan tentang cinta menurut saya. Cinta itu dua arah. Mungkin di kasus Si Dia, cinta itu tidak lagi berlangsung dua arah sehingga menjadi berat sebelah dan tidak sehat. *sokwise dan soktau mode on


Sayup-sayup terdengar dari kamar mandi, si penyanyi kamar mandi beraksi:
Bayangkan... Bayangkan ku hilang, hilang tak kembali. Kembali untuk mempertanyakan lagi cinta. Cintamu yang mungkin, mungkin tak berarti. Berarti untuk ku rindukan...

Senin, 29 Oktober 2012

sebuah cerita tentang teman lamaku, Si Waktu

Aku terlalu sering bermain-main dengan sesuatu,
Waktu namanya.
Aku ajak dia bersenang-senang
tanpa harus merasa bersalah,
tanpa rasa takut dia akan hilang

layaknya Cinderela jam12 malam.

Suatu ketika,
Waktu mengingatkanku seperti ini,
"Lakukan (pekerjaan itu) sekarang!
Apa lagi yang kamu tunggu?"

Aku berdalih,
"Tenang saja Waktu,
aku masih menunggu temanku,
Si Kenyamanan, dia berjanji akan datang..
Tanpa dia, aku tidak bisa bekerja."

Waktu tidak sependapat,
"Dia tidak akan datang, percayalah..
Kamu bisa bekerja tanpa dia, kamu masih punya aku.
Aku akan menemanimu namun aku tidak bisa menungguimu terlalu lama."

"Waktu, apapun yang kamu katakan, aku akan tetap menunggu temanku itu, titik!" tegasku.

Aku pun setia menunggu Kenyamanan.

Menunggu..

Menunggu..

Dan menunggu.

Waktu benar.
Kenyamanan tidak pernah datang.
Sedangkan Waktu, ia tidak pernah bisa menunggu.

Tinggallah aku di sini yang berlumur rasa sesal dan lelah bekerja.
Waktu sesekali datang menghampiriku, "Kapan kita bermain-main lagi?"
Aku hanya bisa tersenyum getir.
Seandainya Waktu bisa menunggu (lebih lama),

sayangnya tidak.


Open doors

Ketika pintu-pintu itu kembali terbuka
Haruskah aku gembira?

Ketika pintu-pintu itu kembali terbuka
Kebingungan kian melanda

Ketika pintu-pintu itu kembali terbuka
Aku terus bertanya-tanya
Inikah yang kudamba?

Ketika pintu-pintu itu kembali terbuka
Tak ada salahnya dicoba :)

Ketika pintu-pintu itu kembali terbuka
Kembali kugantungkan asa
Pada Tuhan kupanjatkan doa

Menurut saya, cinta itu...

Cinta itu saling
Cinta itu dua arah
Cinta itu tak mengenal waktu, tak pula mengenal malu
Cinta itu menghangatkan
Cinta itu tidak memaksa
Cinta itu sama rata, tidak berat sebelah
Cinta itu membahagiakan

Salam,
perempuan yang masih mencari cinta sejatinya