Aku terlalu sering bermain-main dengan sesuatu,
Waktu namanya.
Aku ajak dia bersenang-senang
tanpa harus merasa bersalah,
tanpa rasa takut dia akan hilang
layaknya Cinderela jam12 malam.
Suatu ketika,
Waktu mengingatkanku seperti ini,
"Lakukan (pekerjaan itu) sekarang!
Apa lagi yang kamu tunggu?"
Aku berdalih,
"Tenang saja Waktu,
aku masih menunggu temanku,
Si Kenyamanan, dia berjanji akan datang..
Tanpa dia, aku tidak bisa bekerja."
Waktu tidak sependapat,
"Dia tidak akan datang, percayalah..
Kamu bisa bekerja tanpa dia, kamu masih punya aku.
Aku akan menemanimu namun aku tidak bisa menungguimu terlalu lama."
"Waktu, apapun yang kamu katakan, aku akan tetap menunggu temanku itu, titik!" tegasku.
Aku pun setia menunggu Kenyamanan.
Menunggu..
Menunggu..
Dan menunggu.
Waktu benar.
Kenyamanan tidak pernah datang.Sedangkan Waktu, ia tidak pernah bisa menunggu.
Tinggallah aku di sini yang berlumur rasa sesal dan lelah bekerja.
Waktu sesekali datang menghampiriku, "Kapan kita bermain-main lagi?"
Aku hanya bisa tersenyum getir.
Seandainya Waktu bisa menunggu (lebih lama),
sayangnya tidak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar