Anut runtut tansah reruntungan. Munggah mudhun gunung anjlog samudra. Gandheng rendhengan jejering rendheng. Reroncening kembang, kembang temanten. Mantene wus dandan dadi dewa dewi. Dewaning asmara gya mudhun bumi. Ela mendhung, bubar mawur, mlipir-mlipir, gya sumingkir. Mahargya dalan temanten. Dalanpun dewa dewi. Swara trompet, ting celeret, arak-arak, sigra-sigrak, Datan kendat, anut runtut, gya mudhun bumi…
Selalu bergandengan tangan seiring sejalan
naik turun gunung sampai kedalam samudera
naik turun gunung sampai kedalam samudera
bergandengan saling beriringan
laksana rangkaian bunga untuk pengantin
laksana rangkaian bunga untuk pengantin
sang pengantin telah berdandan laksana dewa-dewi
dewa asmara yang turun ke bumi
dewa asmara yang turun ke bumi
lihatlah mendung menyingkir menuju ke tepi dan segera berlalu
sebab jalan bagi pengantin adalah jalan bagi dewa-dewi
sebab jalan bagi pengantin adalah jalan bagi dewa-dewi
terdengar suara terompet berarak-arakan dan bergembira
tidak putus- putusnya arakan itu dan segeralah menuju ke bumi
tidak putus- putusnya arakan itu dan segeralah menuju ke bumi
Saya tahu lagu ini sepertinya sedari SD dan langsung suka, walau
hanya dari aransemen musik dan cara bernyanyinya. Beberapa tahun belakangan, setelah adanya teknologi
internet dan google, saya baru tahu bahwa ini lagi tentang pernikahan. Liriknya
puitis. Tapi masih gak mudeng sama korelasi judulnya yang unik itu. Hmmmm..
Eniwei, bisa nih dimasukin ke list lagu buat acara nikahan.
Mempelai pria mana mempelai pria, hahahaha
( ˘)з┌◦◦◦♥ ♡ ♥ ♡
Tiup-tiup cinta,
Yang menunggu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar