Jumat, 10 Agustus 2012

Sebuah kisah klasik untuk masa depan


Gara-gara tadi nulis tentang jaman sekolah, jadi inget deh sama lagu So7 ini.
Bersenang-senanglah. Kar'na hari ini yang 'kan kita rindukan. Di hari nanti, sebuah kisah klasik untuk masa depan. Bersenang-senanglah. Kar'na waktu ini yang 'kan kita banggakan di hari tua. 
Sampai jumpa kawanku, s'moga kita selalu menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan...
Lagu perpisahan. Oke, yang akan saya tulis ini bukan cerita tentang jaman sekolah atau kuliah. Ini tentang rekan-rekan kerja saya. Curhat dikit gak papa lah ya, Cyyyn, hehe

Jadi, saya baru saja resign di akhir Juni lalu. Saya memutuskan untuk berwirausaha di kota kelahiran saya, Semarang. Walaupun saya tidak bekerja lagi di kantor yang ada di Jakarta itu, saya masih bergabung di bbm grup. Saya pernah menanyakan hal ini ke sahabat saya, Dita. “Gw leave grup gak ya, Dit?” “Gak usah, Che, kan grup Finance gak pernah ngomongin kerjaan rrrr ya jarang sih. Isinya becanda doang gitu” “Hahahaha, iyaaaa”

Mungkin tempat saya pernah bekerja itu bukan tempat bekerja terbaik, tapi saya mendapati teman-teman terbaik, guru-guru terbaik. Harus saya akui, bekerja dapat membuat kita menjadi semakin dewasa. *mendadak bijak *dilempar dokumen beserta invoice sama Mbak Yunika *lalu ngacir, sembunyi di gudang dokumen

Ibu beberapa kali sempat menanyakan, “Kamu gak kangen ngantor apa (mungkin) kangen temen-temen kantor?” Iya, yang kedua. Saya kangen rebutan makanan. *kalo kata Yudha, laki-laki asal Kediri yang sempat menjadi cubicle mate saya, saya ini food oriented! Kangen timpal-timpalan nyinyir di kubikel. Kangen karokean, nyanyi-nyanyi gak jelas bareng. Kangen makan di luar bareng. Kangen siul-siul bareng. Kangen makan lembur bareng: city light (aka Cahaya Kota) dan Indogaya, hahaha

Gara-gara mereka, saya jadi doyan sushi. Saya jadi bisa pake jilbab yang rada mendingan. Saya jadi pede nyanyi. Saya jadi melek teknologi.
Kemaren sempet bikin tulisan ini:
Aku merindukan perbincangan kita di sela-sela bekerja, di antara makian telepon yang berdering sepersekian detik sekali.
Aku juga merindu pada balon-balon dialog yang kita ciptakan ketika jari-jemari berkejaran kian-kemari di atas tuts-tuts komputer.
Dinding penyekat bukan penghambat.
Suara-suara bersinggungan di udara lalu pecah menjadi gelombang tawa. Riuh rendah gemuruh lantai lima. Kita.
foto dari Fuji instax mini-nya Dita yang di-scan  sama Teh Fitri

Sampe ketemu di nikahan Mbak Yunika dan Mas ATS. X))
Semoga silaturahmi kita terus terjalin yaa! Aamiin *peluk satu-satu 

Salam hangat selalu untukmu,
Pecinta mie rebus bikinan Bu Sum, Mbak Ila, Mbak Lisa, Mbak Marni

Tidak ada komentar:

Posting Komentar